Total Pageviews

Friday, 26 September 2014

Penatalaksanaan Gastritis

Pengobatan gastritis meliputi : 
1. Mengatasi kedaruratan medis yang terjadi. 
2. Mengatasi atau menghindari penyebab apabila dapat dijumpai.
3. Pemberian obat-obat antasid atau obat- obat ulkus lambung yang lain

Terapi Farmakologi
Pengobatan yang dilakukan terhadap gastritis bergantung pada penyebabnya. Pada banyak kasus gastritis, pengurangan dari asam lambung dengan bantuan  obat sangat bermanfaat. Antibiotik digunakan untuk menghilangkan infeksi. Penggunaan dari obat-obatan yang mengiritasi lambung juga harus  dihentikan. Pengobatan lain juga diperlukan bila timbul komplikasi atau akibat  lain dari gastritis.

Kategori obat pada gastritis adalah:
Antasid : menetralisir asam lambung dan menghilangkan nyeri
Acid blocker : membantu mengurangi jumlah asam lambung yang diproduksi.

Proton pump inhibitor : menghentikan produksi asam lambung dan menghambat H.pylori.
Cytoprotective agent : melindungi jaringan mukosa lambung dan usus halus.

Terapi berdasarkan penyebabnya :
Jika penyebabnya adalah infeksi oleh Helicobacter pylori, maka diberikan bismuth, antibiotik (misalnya amoxicillin dan claritromycin dan obat anti-tukak (omeprazole). 
Penderita gastritis karena stres akut banyak yang mengalami penyembuhan setelah penyebabnya (penyakit berat, cedera atau perdarahan) berhasil diatasi. Tetapi sekitar 2% penderita gastritis karena stres akut mengalami perdarahan yang sering berakibat fatal. Karena itu dilakukan pencegahan dengan memberikan antasid (untuk menetralkan asam lambung) dan obat anti-ulkus yang kuat (untuk mengurangi atau menghentikan pembentukan asam lambung). 
Perdarahan hebat karena gastritis akibat stres akut bisa diatasi dengan menutup sumber perdarahan pada tindakan endoskopi. Jika perdarahan berlanjut, mungkin seluruh lambung harus diangkat. 
Gastritis erosif kronis bisa diobati dengan antasid.  Penderita sebaiknya menghindari obat tertentu (misalnya aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya) dan makanan yang menyebabkan iritasi lambung. Misoprostol mungkin bisa mengurangi resiko terbentuknya ulkus karena obat anti peradangan non-steroid.
Untuk meringankan penyumbatan di saluran keluar lambung pada gastritis eosinofilik, bisa diberikan kortikosteroid atau dilakukan pembedahan.
Gastritis atrofik tidak dapat disembuhkan. Sebagian besar penderita harus mendapatkan suntikan tambahan vitamin B12.
Penyakit Meniere bisa disembuhkan dengan mengangkat sebagian atau seluruh lambung.
Gastritis sel plasma bisa diobati dengan obat anti ulkus yang menghalangi pelepasan asam lambung.

Pada gastritis, penatalaksanaannya dapat dilakukan dengan : 
a. Gastritis akut
Instruksikan pasien untuk menghindari alkohol.
Bila pasien mampu makan melalui mulut diet mengandung gizi dianjurkan.
Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan secara parenteral.
Bila perdarahan terjadi, lakukan penatalaksanaan untuk hemoragi saluran Gastromfestinal
Untuk menetralisir asam gunakan antasida umum.
Untuk menetralisir alkali gunakan jus lemon encer atau cuka encer.
Pembedahan darurat mungkin diperlukan untuk mengangkat  gangren atau perforasi.
Reaksi lambung diperlukan untuk mengatasi obstruksi pilorus.

b. Gastritis kronis
Dapat diatasi dengan memodifikasi diet pasien, diet makan  lunak diberikan sedikit tapi lebih sering.
Mengurangi stress
H. Pylori diatasi dengan antiobiotik (seperti tetraciklin ¼, amoxillin) dan gram bismuth (pepto-bismol).

Pencegahan

Cara terbaik untuk mengatasi gastritis adalah melakukan pencegahan, seperti :
tidak menggunakan obat-obat yang mengiritasi lambung,
makan teratur atau tidak terlalu cepat,

mengurangi makan makanan yang terlalu pedas dan berminyak,
hindari merokok dan banyak minum kopi/alkohol,
kurangi stres.

PENGOBATAN GOUT / ASAM URAT

Ada dua kelompok obat penyakit gout/asam urat, yaitu :
  1. Obat yang menghentikan proses inflamasi akut, ex : kolkisin, fenilbutazon, oksifentabutazon, dan indometasin
  2. Obat yang mempengaruhi kadar asam urat, ex : probenesid, alupurinol, dan sulfinpirazon.
Untuk keadaan akut digunakan obat AINS (Anti Inflamasi Non Steroid)
Ex : ketorolak, etodolak

Kolkisin
merupakan alkaloid Colchicum autumnale (sejenis bunga lili).

Farmakodinamik
Sifat antiradang kolkisin spesifik terhadap penyakit pirai dan beberapa artritis lainnya.
Obat ini berikatan dengan protein mikrotubular dan menyebabkan depolimerisasi dan menghilangnya mikrotubular fibrilar granulosit dan sel bergerak lainnya. Ini menyebabkan penghambatan migrasi granulosit ke tempat radang  sehingga pelepasan mediator inflamasi juga dihambat dan respon inflamasi ditekan.

Indikasi
                Kolkisin adalh obat terpilih untuk penyakit pirai. Pemberian harus dimulai secepatnya pada awal serangan dan diteruskan sampai gejala hilang atau timbul efek samping yang mengganggu.
                Gejala penyakit umumnya menghilang 24 – 48 jam setelah pemberian obat. Kolkisin juga berguna untuk profilaktik serangan penyakit pirai atau mengurangi beratnya serangan.
         Dosis
                0,5 – 0,6 mg tiap jam atau 1,2 mg sebagai dosis awal diikuti 0,5 – 0,6 mg tiap 2 jam sampai gejala penyakit hilang atau gejala saluran cderna timbul. Untuk profilaksis diberikan 0,5 – 1 mg sehari.
                Pemberian IV : 1 – 2 mg dilanjutkan dengan 0,5 tiap 12-24 jam. Dosis jangan melebihi 4 mg dengan satu regimen pengobatan. Untuk mencegah iritasi akibat ekstravasasi sebaiknya larutan 2 ml diencerkan menjadi 10 ml  dengan larutan garam faal.
         Efek samping : mual, muntah, dan diare
                Bila efek ini terjadi, pengobatan harus dihentikan walaupun efek terapi belum tercapai

ALOPURINOL
         Berguna untuk mengobati penyakit pirai karena menurunkan kadar asam urat. Pengobatan jangka panjang dapat mengurangi serangan, menghambat pembentukan tofi, memobilisasi asam urat dan mengurangi besarnya tofi.
         Obat ini terutama mengobati penyakit pirai kronik dengan infusiensi ginjal dan batu urat dalam ginjal, tetapi dosis awal harus di kurangi.
         Alopurinol berguna untuk pengobatan pirai sekunder akibat polisitermia vera, metaplasia mieloid, leukemia, limfoma, psoriasis, hiperurisemia akibat obat dan radiasi.

    Mekanisme kerja 
    Obat ini bekerja dengan menghambat Xantin oksidase, enzim yang mengubah hipoxantin manjadi xantin dan selanjutnya menjadi asam urat. Melalui mekanisme umpan balik alopurinol menghambat sintesis purin yeng merupakan prekursor xantin. Alopurinol sendiri mengalami biotransformasi oleh enzim xantin oksidase menjadi aloxantin yang masa paruhnya lebih panjang daripada alopurinol, itu sebabnya alopurinol yang masa paruhnya pendek cukup diberikan satu kali sehari.
  • Efek samping : reaksi kulit (kemerahan kulit). Bila timbul, obat harus dihentikan karena gangguan mungkin menjadi lebih berat. Reaksi alergi berupa demam menggigil, leukopenia atau leukositosis, eusinofilia, artralgia, dan pruritus.
  • Dosis : untuk penyakit pirai ringan 200-400 mg sehari, untuk penyakit pirai berat 400-600 mg. Untuk pasien gangguan fungsi ginjal dosis cukup 100-200 mg sehari.
                Untuk anak 6-10 thn : 300 mg sehari
                Anak di bawah 6 thn : 150 mg sehari

PROBENESID
         Probenesid mencegah dan mengurangi kerusakan sendi serta pembentukan tofi pada penyakit pirai, tidak efektif untuk mengatasi serangan akut. Probenesid juga berguna untuk pengobatan hiperurisemia sekunder. Probenesid tidak berguna bila laju filtrasi glomerulus kurang dari 30 ml/menit.
         Efek samping : gangguan saluran cerna, nyeri kapala, dan reaksi alergi.
         Probenesid menghambat ekskresi renal dari sulfinpirazon, indometasin, penisilij, PAS, sulfonamid, dan juga berbagai asam organik sehingga dosis harus disesuaikan bila diberikan bersamaan.
Dosis : 2 x 250 mg/hari selama semnggu diikuti dengan 2 x 500 mg/hari.

SULFINPIRAZON

Sulfinpirazon mencegah dan mengurangi kelainan sendi dan tofi pada penyakit piraikronik berdasarkan hambatan reabsorsi tubular asam urat. Kurang efektif menurunkan kadar asam urat dibandingkan dengan alopurinol dan tidak berguna mengatasi serangan pirai akut, malah dapat meningkatkan frekuensi serangan pada awal terapi. 
Efek Samping : gangguan saluran cerna, kadang-kadang perlu dihentikan pengobatannya. Sulfinpirazon tidak boleh diberikan pada pasien dengan riwayat ulkus peptik. Anemia, leukopenia, agranulositosis. Sulfipirazon dapat meningkatkan efek insulin dan obat hipoglikemik oral seperti fenilbutazon dan oksifenbutazon, sehingga harus diberikan bersamaan dengan obat-obat tersebut. 
Dosis :  2 x 100-200 mg sehari, ditingkatkan sampai 400-800 mg kemudian dikurangi sampai dosis efektif minimal.

KETOROLAK

  • Merupakan analgesik poten dengan efek anti-inflasmasi sedang. Ketorolak merupakan satu dari sedikit AINS yang tersedia untuk pemberian parenteral. 
  • Ketorolak IM sebagai analgesik pascabedah memperlihatkan efektifvtas sebanding morvin/meperidin dosis umum, masa kerjanya lebih panjang dan efek sampingnya lebih ringan. Obat ini diberikan per oral.
  • Dosis : IM  30-60 mg, IV : 15-30 mg, dan oral : 5-30 mg 
  • Efek samping : Nyeri ditempat suntikan, gangguan saluran cerna, kantuk, pusing, dan sakit kepala. Ketorolak sangat selektif menghambat COX-1, maka obat ini hanya dianjurkan dipakai tidak lebih dari 5 hari karena kemungkinan tukak lambung dan iritasi lambung sangat besar sekali.

ETODOLAK
Merupakan AINS kelompok asam piranokarboksilat. Obat ini merupakan AINS yang lebih selektif terhadap COX-2 dibanding AINS umumnya. Etodolak menghambat bradikinin yang diketahui merupakan salah satu mediator perangsang nyeri. Masa kerjanya pendek sehingga harus diberikan 3-4 kali sehari. Berguna untuk analgesik pasca bedah misalnya bedah koroner. Dosis 200-400 mg, 3-4 kali sehari.



Penatalaksanaan ARTHRITIS RHEMATOID

Terapi Farmakologi
1.Nonsteroid Anti Inflamation Drugs (NSAID)
2.Kortikosteroid
3.Obat slow-acting
4.Obat imunosupresif

Nonsteroid Anti Inflamation Drugs (NSAID) 
Yang paling banyak digunakan adalah ibuprofen. 
Obat ini mengurangi pembengkakan pada sendi yang terkena dan meringankan rasa nyeri.
Aspirin merupakan obat tradisional untuk artritis rematoidobat yang lebih baru memiliki 
lebih sedikit efek samping tetapi harganya lebih mahalDosis awal adalah 4 kali 2 tablet 
(325 mgram)/hariTelinga berdenging merupakan efek samping yang menunjukkan 
bahwa dosisnya terlalu tinggi.  
Gangguan pencernaan dan ulkus peptikum, yang merupakan efek samping dari dosis yang terlalu tinggibisa dicegah dengan memakan makanan atau antasida atau obat lainnya pada saat meminum aspirin.
Misoprostol bisa membantu mencegah erosi lapisan lambung dan pembentukan ulkus gastrikumtetapi obat ini juga menyebabkan diare dan tidak mencegah terjadinya mual atau nyeri perut karena aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya.
Kortikosteroid  
Kortikosteroid (misalnya Prednisonmerupakan obat paling efektif untuk mengurangi peradangan di bagian tubuh manapun.
Kortikosteroid efektif pada pemakaian jangka pendek dan cenderung kurang efektif jika digunakan dalam jangka panjangpadahal artritis rematoid adalah penyakit yang biasanya aktif selama bertahun-tahun.
Kortikosteroid biasanya tidak memperlambat perjalanan penyakit ini dan pemakaian jangka panjang menyebabkan berbagai efek samping, yang melibatkan hampir setiap organ.
Efek samping yang sering terjadi adalah penipisan kulitmemar, osteoporosis, tekanan darah tinggikadar gula darah yang tinggi dan katarak.
Karena itu obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi kekambuhan yang mengenai beberapa sendi atau jika obat lainnya tidak efektif.
Kortikosteroid juga digunakan untuk mengobati peradangan diluar sendiseperti peradangan selaput paru-paru (pleuritisatau peradangan kantong jantung (perikarditis).
Untuk menghindari resiko terjadinya efek sampingmaka hampir selalu digunakan dosis efektif terendah.
Obat ini bisa disuntikkan langsung ke dalam senditetapi bisa menyebabkan kerusakan jangka panjangterutama jika sendi yang terkena digunakan secara berlebihan sehingga mempercepat terjadinya kerusakan sendi.
Obat Slow-Acting  
Obat slow acting kadang merubah perjalanan penyakitmeskipun perbaikan  memerlukan waktu beberapa bulan dan efek sampingnya berbahaya.
Pemakaiannya harus dipantau secara ketat.
Obat ini biasanya ditambahkan jika obat anti peradangan non-steroid terbukti tidak efektif setelah diberikan selama 2-3 bulan atau diberikan segera jika penyakitnya berkembang dengan cepat.
Contoh obatnya :
senyawa emas,
penisilamin,
hydroxycloroquinine
sulfasalazine.
1. Senyawa Emas 
Senyawa emas berfungsi memperlambat terjadinya kelainan bentuk tulangBiasanya diberikan sebagai suntikan mingguan.
Suntikan mingguan diberikan sampai tercapai dosis total 1 gram atau sampai timbulnya efek samping atau terjadinya perbaikan yang berarti.
Jika obat ini efektifdosisnya dikurangi secara bertahap.
Kadang perbaikan dicapai setelah diberikannya dosis pemeliharaan selama beberapa tahun.
Senyawa emas bisa menimbulkan efek samping pada beberapa organ, karena itu obat ini tidak diberikan kepada penderita penyakit hati atau ginjal yang berat atau penyakit darah tertentu.
Sebelum pengobatan dimulai dan setiap seminggu sekali selama pengobatan berlangsungdilakukan pemeriksaan darah dan air kemih.
Efek sampingnya berupa ruam kulitgatal dan berkurangnya sejumlah sel darah.
Jika terjadi efek samping yang seriusmaka pemakaiannya segera dihentikanSenyawa emas berfungsi
memperlambat terjadinya kelainan bentuk tulangBiasanya diberikan sebagai suntikan mingguan. 
Suntikan mingguan diberikan sampai tercapai dosis total 1 gram atau sampai timbulnya efek samping atau terjadinya perbaikan yang berarti. 
Jika obat ini efektifdosisnya dikurangi secara bertahap. 
Kadang perbaikan dicapai setelah diberikannya dosis pemeliharaan selama beberapa tahun. 
2.  Penisilamin 
Efeknya menyerupai senyawa emas dan bisa digunakan jika senyawa emas tidak efektif atau menyebabkan efek samping yang tidak dapat ditoleransi.
Dosisnya secara bertahap dinaikkan sampai terjadinya perbaikan.
Efek sampingnya adalah penekanan terhadap pembentukan sel darah di dalam sumsum tulangkelainan ginjalpenyakit ototruam kulit dan rasa tidak enak di mulutJika terjadi efek samping tersebutmaka pemakaian obat harus dihentikan.
Obat ini juga bisa menyebabkan miastenia gravis, sindroma Goodpasture dan sindroma yang menyerupai lupus.
Selama pengobatan berlangsungdilakukan pemeriksaan darah dan air kemih setiap 2-4 minggu sekali.
3. Hydroxycloroquine
Digunakan untuk mengobati artritis rematoid yang tidak terlalu berat.
Efek sampingnya biasanya ringanyaitu berupa ruam kulitsakit otot dan kelainan mataTetapi beberapa kelainan mata bisa menetapsehingga penderita yang mendapatkan obat ini harus memeriksakan matanya sebelum dilakukan pengobatan dan setiap 6 bulan selama pengobatan berlangsung.
Jika setelah 6 bulan tidak menunjukkan perbaikanmaka pemberian obat ini dihentikanJika terjadi perbaikanpemakaian obat ini bisa dilanjutkan sesuai dengan kebutuhaN
4.  Sulfasalazine
Obat ini semakin banyak digunakan untuk mengobati artritis rematoid.
Dosisnya dinaikkan secara bertahap dan perbaikan biasanya terjadi dalam 3 bulan.
Sulfasalazine bisa menyebabkan gangguan pencernaankelainan hatikelainan sel darah dan ruam kulit.
Obat imunosupresif 
Obat imunosupresif (contohnya cyclophosphamideefektif untuk mengatasi artritis rematoid yang berat.
Obat ini menekan peradangan sehingga pemakaian kortikosteroid bisa dihindari atau diberikan kortikosteroid dosis rendah.
Efek sampingnya berupa penyakit hatiperadangan paru-parumudah terkena infeksipenekanan terhadap pembentukan sel darah di sumsum tulang dan perdarahan kandung kemih (karena cyclophosphamide).
Selain itu cyclophosphamide bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker.
Metotreksat diberikan per-oral (ditelan) 1 kali/minggudigunakan untuk mengobati artritis rematoid stadium awal.
Cyclophosphamide,Siklosporin bisa digunakan untuk mengobati artritis yang berat jika obat lainnya tidak efektif.
TERAPI NONFARMAKOLOGI 
Bersamaan dengan pemberian obat untuk mengurangi peradangan sendibisa dilakukan latihan-latihanterapi fisikpemanasan pada sendi yang meradang dan kadang pembedahan.
Sendi yang meradang harus dilatih secara halus sehingga tidak terjadi kekakuan.
Setelah peradangan meredabisa dilakukan latihan aktif yang rutintetapi jangan sampai terlalu lelahBiasanya latihan akan lebih mudah jika dilakukan di dalam air.
Untuk mengobati persendian yang kakudilakukan latihan yang intensif dan kadang digunakan pembidaian untuk meregangkan sendi secara perlahan.
Jika pemberian obat tidak membantumungkin perlu dilakukan pembedahan.
Untuk mengembalikan pergerakan dan fungsinyabiasanya dilakukan pembedahan untuk mengganti sendi lutut atau sendi panggul dengan sendi buatan.
Persendian juga bisa diangkat atau dilebur (terutama pada kaki), supaya kaki tidak terlalu nyeri ketika digunakan untuk berjalan.
Ibu jari bisa dilebur sehingga penderita bisa menggenggam dan tulang belakang di ujung leher yang tidak stabil bisa dilebur untuk mencegah penekanan terhadap urat saraf tulang belakang